Senin, 28 Mei 2012

proposal skripsi

Tahun 2012

A. Analisis Teoretis

1. Pengertian Belajar

a. Pengertian Belajar

Belajar adalah perubahan tingkah laku dari yang tidak bisa menjadi bisa dan dari yang tidak tahu menjadi tahu, peserta didik dikatakan sudah belajar apabila terjadi perubahan-perubahan tingkah laku yang menetap, dengan demikian dapat diartikan bahwa perubahan-perubahan tingkah laku pada peserta didik tersebut merupakan belajar.

Menurut Fathurrohman dan Sutikno (2007:6) mengatakan bahwa: “belajar pada hakekatnya adalah ‘perubahan’ yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu.” Sedangkan menurut Slameto (2010:2) mengatakan bahwa “belajar ialah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

7

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan usaha untuk memperoleh perubahan tingkah laku melalui hubungan interaksi dengan lingkungan berupa pengalaman baik bersifat kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik. perubahan tingkah laku dalam memperteguhkan kelakuan melalui pengalaman dalam mencapai suatu tujuan yaitu hasil belajar.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

Belajar merupakan suatu keharusan setiap manusia, baik dilakukan dengan sengaja atau tidak, oleh sebab itu belajar adalah merupakan tanggung jawab masing-masing orang dan hasil yang diperoleh atau hasil belajar itu sendiri berbeda-beda setiap manusia, tergantung pada pengalaman yang diperoleh, kondisi, serta kemampuan diri masing-masing individu. Belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan kecakapan. Sampai di manakah perubahan itu dapat tercapai atau dengan kata lain, berhasil baik tidaknya belajar itu tergantung kepada bemacam-macam faktor.

Menurut Suryabrata (2007:233) Faktor-faktor mempengaruhi belajar dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:

1) Faktor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih lagi dapat digolongkan menjadi dua golongan __ dengan cacatan bahwa overlapping tetap ada__, yaitu:

a. Faktor-faktor nonsosial, dan

b. Faktor-faktor sosial

2) Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan inipun dapat lagi digolongkan menjadi dua golongan, yaitu:

a. Faktor-faktor fisiologis, dan

b. Faktor-faktor psikologis

Berdasarkan beberapa faktor di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar merupakan suatu keharusan manusia baik dilakukan dengan sengaja atau tidak, dan juga merupakan suatu tanggung jawab setiap manusia tergantung pada pengalaman serta kondisi-kondisi dari masing-masing individu.

2. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Menurut Patmonodewo, (2005:102) mengatakan bahwa : “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya, dan hasil peserta didik pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku”.

Lebih lanjut Sudijono, (2006:31-32) mengemukakan bahwa : Hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa pada tiga prinsip dasar berikut ini :

1) Prinsip keseluruhan bahwa hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi dilakukan secara bulat, utuh dan menyeluruh,

2) Prinsip berkesinambungan bahwa hasil belajar yang baik adalah evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur dan sambung menyambung dari waktu ke waktu,

3) Prinsip objektifitas bahwa hasil belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari faktor-faktor yang sifatnya subjektif .

Sedangkan menurut pendapat Dimyati dan Mudjiono (1999:250-251) mengatakan bahwa:

Hasil belajar dapat dipandang dari dua sisi yaitu “Dari sisi peserta didik hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar, sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah bagian terakhir dari berbagai hal penting dalam proses pembelajaran, hasil belajar dapat terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip yaitu keseluruhan, kesinambungan, dan objektifitas. Hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku, di mana hasil belajar ini dapat dinilai dari beberapa teknik atau prosedur penilaian serta hasil belajar merupakan prestasi akademik yang harus dicapai peserta didik dalam bentuk nilai.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Agar dapat memenuhi hasil belajar optimal dalam proses pembelajaran, maka sebagai pendidik di tuntut untuk memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Sudjana (2004:39-40) adalah :

a. Faktor dari dalam siswa, faktor yang datang pada diri siswa terutama kemampuan yang dimiliki. Faktor kemampuan besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar peserta didik. Di samping faktor kemampuan yang dimiliki siswa ada juga faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar.

b. Faktor lingkungan

Faktor yang datang dari luar dirinya yang dapat menentukan atau mempengaruhi hasil belajar yang ingin dicapai. Salah satu faktor dominan yang mempengaruhi hasil belajar di sekolah, ialah kualitas pengajaran.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi hasil belajar dari dalam peserta didik adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik tersebut, selain kemampuan yang dimiliki peserta didik ada juga faktor lain yang meliputi motivasi belajar, minat dan perhatian, dan kebiasaan belajar

3. Hasil Belajar IPA

Hasil belajar IPA merupakan bagian terpenting dari proses pembelajaran IPA, proses belajar mengajar akan dikatakan berhasil apabila hasil belajar peserta didik sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pendidik oleh karena hasil belajar IPA hendaknya menjadi perhatian bagi semua pendidik. Hasil belajar diidentifikasikan sebagai kemampuan kognitif yang dimiliki oleh peserta didik sangat erat kaitannya dengan rumusan tujuan instruksional yang direncanakan atau dirancang oleh pendidik sebelumnya. Hal senada juga diungkapkan oleh Sudjana (2004:35) “Hasil belajar ini dipengaruhi oleh kemampuan guru sebagai perancang kegiatan pembelajaran untuk itu guru dituntut menguasai taksonomi hasil belajar yang selama ini dijadikan pedoman dalam perumusan tujuan instruksional”.

Hasil belajar IPA biasanya ditandai dengan kemampuan - kemampuan awal dan perubahan tingkah laku yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajar IPA. Seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (2006:30) mengungkapkan bahwasanya “ Bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari yang tidak tahu menjadi tahu, dan dari yang tidak mengerti menjadi mengerti”.

Dari pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud hasil belajar IPA adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah mengalami proses belajar IPA dan hasil belajar IPA tersebut dapat berupa nilai, kemampuan-kemampuan dan pengetahuan yang diperolehnya, yang menunjukkan adanya perubahan tingkah laku.

4. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

a. Pengertian IPA

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memberi peranan besar terhadap kemajuan teknologi, IPA tidak dapat terpisahkan dengan kehidupan kita dan berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu ilmu yang bermanfaat bagi manusia. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk lebih memahami diri sendiri dan alam sekitar, serta diharapkan pengembangan pendidikan IPA lebih lanjut dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Banyak ahli yang mangemukakan tentang IPA. Dewiki dan Yuniati (2006:2.9-2.10) Mengatakan bahwa :

“IPA ialah suatu pengetahuan teoretis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas, yakni dengan melakukan observasi eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan seterusnya, berkaitan antara cara satu dengan cara yang lainnya”.

Sedangkan pengertian IPA menurut Izzatin Kamala (http:// kompas. blogspot.com/2010/15/pengertian ipa.htl:15November 2010) adalah ”IPA merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan didapatkan hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus disempurnakan”.

Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu IPA adalah pengetahuan dari hasil manusia yang berbentuk pengetahuan teoretis dan diperoleh dengan melakukan langkah-langkah ilmiah seperti melakukan observasi eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan seterusnya, di mana antara cara yang satu dan cara yang lainnya saling berkaitan.

b. Tujuan Pembelajaran IPA

Setiap pembelajaran pasti terdapat tujuan, karena dengan adanya tujuan peserta didik diharapkan dapat memiliki kemampuan yang diinginkan oleh pendidik. Sama halnya seperti pembelajaran IPA yang memiliki tujuan dalam pembelajarannya.

Departemen Pendidikan Nasional (2006:7) mengemukakan tentang tujuan pembelajaran IPA di SD adalah :

Mata Pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

1. Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya;

2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang dapat bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari;

3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat;

4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan;

5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam;

6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai ciptaan Tuhan;

7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTS.

c. Indikator Keberhasilan Pembelajaran IPA

Adapun indikator keberhasilan pembelajaran IPA menurut Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno (2007:113) adalah sebagai berikut :

1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok;

2. Prilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran khusus (TPK) telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok;

3. Terjadinya proses pemahaman materi yang sekuensial (sequential) mengantarkan materi tahap berikutnya.

5. Pengertian Metode Pembelajaran

Metode juga bisa diartikan sebagai cara atau teknik. Dalam dunia pendidikan metode merupakan cara untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Selanjutnya metode juga dapat dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran, dengan demikian dapat diartikan sebagai cara atau teknik yang dilakukan seseorang untuk mencapai tujuan.

Menurut beberapa ahli yang mengemukakan metode. Wina Sanjaya (2009:147) mengatakan bahwa : “metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Selanjutnya menurut Cholid Narbuko dan Abu Achmadi (2007:1) mengatakan bahwa : “Metode adalah cara yang tepat untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan”. Sedangkan menurut Ahmad Sabri (2005:52) mengatakan bahwa: “metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok”.

Dari beberapa pendapat tersebut maka ditarik suatu kesimpulan yaitu metode merupakan suatu cara yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu khususnya di dalam proses pembelajaran perlu di gunakan metode yang tepat agar apa yang menjadi tujuan dalam belajar dapat dengan mudah dipahami serta untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

6. Metode Proyek

a. Pengertian Metode proyek

metode proyek merupakan metode pembelajaran dengan jalan memberikan kegiatan belajar kepada peserta didik, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih, merancang, dan memimpin pikiran serta pekerjaannya.

Menurut Djamarah dan Zain (2010:83) mengatakan bahwa: “metode proyek atau unit adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna”. Sedangkan menurut Yamin (2009:151) mengatakan bahwa: “Metode proyek merupakan pemberian tugas kepada semua siswa untuk dikerjakan secara individual”. Serta menurut Masnur Muslich (2009:203) mengemukakan bahwa: “metode proyek adalah suatu metode, dimana pendidik harus merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai objek kajian.

b. Kelebihan dan Kekurangan Metode Proyek.

Setiap metode biasanya ada kelebihan dan kekurangannya. Seperti yang diungkapkan oleh Djamarah dan Zain (2010:83-84) mengatakan bahwa:

a) Kelebihannya

Beberapa kelebihan metode ini antara lain:

1. Dapat memperluas pemikiran siswa yang berguna dalam menghadapi masalah kehidupan.

2. Dapat membina siswa dengan kebiasaan menerapkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan dalam kehidupan sehari-hari secara terpadu.

3. Metode ini sesuai dengan prinsip-prinsip didaktik modern yang dalam pengajaran perlu diperhatikan:

a) Kemampuan individual siswa dan kerja sama dalam kelompok.

b) Bahan pelajaran tidak terlepas dari kehidupan riil sehari-hari yang penuh dengan masalah.

c) Pengembangan aktivitas kreativitas dan pengalaman siswa banyak dilakukan.

d) Agar teori dan praktik, sekolah dan kehidupan masyarakat menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

b) Kekurangannya

Metode ini mengandung kekurangan, antara lain:

1. Kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini.

2. Pemilihan topik unit yang tepat sesuai dengan kebutuhan siswa, cukup fasilitas dan sumber-sumber belajar diperlukan, bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah.

3. Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.

c. Tipe-tipe metode proyek

Metode proyek yang diusulkan Kilpatrick mencoba memadukan tiga unsur dalam satu kesatuan konsep. Ketiga unsur tersebut antara lain:

a. Pasrtisipasi sosial siswa dalam situasi belajar,

b. Penggunaan penuh prinsip-prinsip psikologi tentang belajar, dan

c. Masuknya unsur etika dan rasa tanggung jawab.

Adapun Tipe metode proyek yang digunakan , yaitu: Proyek konstruksi atau kreatif, tujuannya untuk mewujudkan sautu gagasan atau rencana bentuk lahiriah, seperti membangun perahu, mengarang cerita, menggelar permainan.

(Cakheppy, http://cakheppy.wordpress.com/2011/04/09/metode-proyek/)

d. Langkah-Langkah Pelaksanaan Metode Proyek

Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode proyek sebagai berikut:

1. Penyelidikan (explaration)

Guru mengajukan pertanyaan lisan, memberikan keterangan singkat serta mengetes para pelajar mengenai pengetahuan mereka tentang mata pelajaran yang akan dipelajari.

2. Penyajian bahan baru (presentation)

Guru memberikan garis besar tentang bahan pelajaran.

3. Asimilasi/pengumpulan keterangan atau data

Para pelajar mencari informasi, keterangan atau fakta-fakta untuk mengisi pokok-pokok yang penting. Dalam langkah ini pelajar mencari data dari sumber-sumber (reousre unit=sumber yang berisi berita, fakta, informasi, dan sebagainya tentang unit yang sedang dipelajari.

4. Mengorganisasikan data (organization)

Dalam langkah ini, pelajar dibawah pimpinan guru aktif mengorganisasikan data, fakta dan informasi. Misal menggolongkan data, mengolah data untuk mengambil kesimpulan data. Daya pikir dan daya menganalisis memainkan peran penting dalam langkah ini.

5. Mengungkapkan kembali (recitation)

Para pelajar mempertanggungjawabkan atau menyajikan hasil yang diperolehnya, laporan pertanggungjawaban ini dapat dilakukan dengan lisan maupun tertulis atau keduanya.

Metode ini memantapkan pengetahuan yang diperoleh peserta didik, serta dapat menyalurkan minat dan melatih peserta didik ketika menelaah suatu materi pelajaran dengan wawasan yang lebih luas.

(Widya Rena Roro, 2011, http : // repository .upi. edu/ operator/ upload/ s_paud_0701458_ chapter2.pdf)

7. Metode Problem Solving (Pemecahan Masalah)

a. Pengertian Metode Problem Solving

Metode problem solving digunakan untuk merangsang peserta didik agar mempergunakan pikiran, wawasan dan belajar menarik suatu kesimpulan kemungkinan pemecahan masalah yang terpikirkan oleh peserta didik baik individual maupun kelompok. Dalam hal ini pendidik disarankan untuk tidak berorientasi pada metode tetapi melihat jalan pikiran dan pendapat peserta didik.

Menurut Sudjana (2004:85) mengatakan bahwa :

Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.

Sedangkan menurut Yamin (2009:150) mengatakan bahwa: “Metode pemecahan masalah juga dikenal metode brainstorming, ia merupakan metode yang merangsang berpikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh siswa”.

Banyak ahli yang mengemukakan tentang metode problem solving. Majid (2008:142) mengemukakan bahwa:

Metode pemecahan masalah (problem solving) merupakan cara memberikan pengertian dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan, menelaah dan berpikir tentang suatu masalah untuk selanjutnya menganalisis masalah tersebut sebagai upaya pemecahan masalah.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode problem solving adalah suatu metode berpikir, sebab dalam penerapan metode ini dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dari mencari data hingga sampai menarik kesimpulan, metode ini juga memberi stimulus pada peserta didik untuk berpikir, menelaah dan mengamati suatu masalah untuk selanjutnya menganalisis masalah tersebut sebagai upaya pemecahan masalah tanpa harus melihat kualitas jawaban yang diberikan oleh peserta didik.

b. Ciri-ciri Metode Problem Solving

Adapun ciri-ciri metode problem solving menurut Sanjaya (2006:108) adalah sebagai berikut:

Pertama, siswa bekerja secara individual atau bekerja dalam kelompok kecil; kedua, pembelajaran ditekankan kepada materi yang mengandung persoalan-persoalan untuk dipecahkan; dan lebih disukai persoalan yang banyak kemungkinan cara pemecahannya; ketiga, siswa menggunakan banyak pendekatan dalam belajar; keempat, hasil dari pemecahan masalah adalah tukar pendapat (sharing) diantara semua siswa.

c. Kelebihan dan Kekurangan Metode Problem Solving

Setiap metode pasti terdapat kelebihan dan kekurangannya masing-masing, termasuk metode problem solving. Seperti yang diungkapkan oleh Djamarah dan Zain (2002:104-105) mengatakan bahwa kelebihan dan kekurangan metode problem solving, sebagai berikut :

1). Kelebihan Metode Problem Solving

a). Metode ini dapat membuat pendidik di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dengan dunia kerja.

b). Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah, dapat membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil, apabila menghadapi permasalahan di dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, dan bekerja kelak, suatu kemampuan yang sangat bermakna bagi kehidupan manusia.

c). Metode ini merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya, siswa banyak melakukan mental dan menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari pemecahannya.

2). Kekurangan Metode Problem Solving

a). Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru. Sering orang beranggapan keliru bahwa metode pemecahan masalah hanya cocok untuk SLTP, SLTA, dan PT saja. Padahal, untuk siswa SD sederajat juga bisa dilakukan dengan tingkat kesulitan permasalahan yang sesuai dengan taraf kemampuan berpikir anak.

b). Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan terpaksa mengambil waktu pelajaran lain.

c). Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan sendiri bagi siswa.

d. Manfaat Metode Problem Solving

Banyak manfaat dari penerapan metode ini. Adapun manfaat yang diperoleh dari metode problem solving menurut Djamarah dan Zain (2002:105) adalah:

a. Mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah serta mengambil keputusan secara obyektif dan rasional.

b. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan analisis.

c. Mengembangkan sikap toleransi terhadap orang lain serta sikap hati-hati dalam mengemukakan pendapat.

d. Memberi pengalaman proses dalam menarik kesimpulan bagi siswa.

e. Langkah-langkah Metode Problem Solving

Menurut Majid (2008:143) langkah-langkah metode problem solving adalah sebagai berikut :

a. Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.

b. Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya, dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya, berdiskusi, dan lain-lain.

c. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh, pada langkah kedua di atas.

d. Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut itu betul-betul cocok. Apakah sesuai dengan jawaban sementara atau sama sekali tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran jawaban itu tentu saja diperlukan metode-metode lainnya seperti, demonstrasi, tugas, diskusi dan lain-lain.

e. Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.

8. Perbedaan Hasil belajar IPA antara yang menggunakan metode proyek dengan metode problem solving

Menurut Djamarah dan Zain (2010:83) mengatakan bahwa: metode proyek atau unit adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna. Menurut Majid (2008:142) mengemukakan bahwa:

Metode pemecahan masalah (problem solving) merupakan cara memberikan pengertian dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan, menelaah dan berpikir tentang suatu masalah untuk selanjutnya menganalisis masalah tersebut sebagai upaya pemecahan masalah.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas bahwa perbedaan dalam penggunaan metode proyek dengan metode problem solving sangat berbeda dalam penyampaian dan penggunaannya. Maka diharapkan dengan dalam tujuan penelitian ini diharapkan metode yang akan digunakan mampu meningkatkan hasil belajar yang memuaskan.

B. Kerangka Berpikir

Pendidik memiliki tugas untuk mentransfer ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan pada pembelajaran IPA. Selain itu pendidik juga dituntut untuk mendesain dan melakukan program belajar secara tepat agar peserta didik mampu meningkatkan hasil belajarnya.

Penggunaan metode proyek dan metode problem solving merupakan salah satu usaha yang dilakukan pendidik untuk meningkatkan hasil belajar lebih disukai oleh peserta didik sehingga membuat proses belajar mengajar menjadi kondusif.

Dalam menunjang pendekatan ini penelitian menggunakan metode proyek dengan harapan mempermudah tujuan yang dicapai dalam proses pembelajaran yang berjalan dengan efisien. Semua ini tidak terlepas dari latar belakang meteri IPA yang memang sebagian besar merupakan bahan bersifat informatif. Dengan adanya metode proyek ini agar peserta didik tidak merasa bosan dalam proses pembelajarannya. Dalam pembelajaran juga harus menggunakan metode yang dapat menumbuhkan minat dan motivasi peserta didik dalam belajarnya.

Dengan begitu akan membantu peserta didik dalam mencapai hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan dan penggunaan metode Proyek akan melatih peserta didik untuk mau berpikir sehingga memudahkan peserta didik untuk memahami materi yang di berikan.

C. Hipotesis Penelitian

Menurut C. Narbuko dan Abu Ahmadi (2007:28) mengatakan bahwa : “hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kenyataannya”.

Berdasarkan paparan teori di atas, dapat diambil suatu hipotesis penelitian sebagai berikut: Ada perbedaan hasil belajar IPA antara yang menggunakan metode proyek dengan metode problem solving pada peserta didik kelas V di SDN-10 Langkai Palangka Raya.

Tidak ada komentar: